Langsung ke konten utama

Kerupuk Si Mbah






Kerupuk Si mbah


Tentu kita semua sepakat tidak asing lagi dengan panganan sederhana bernama kerupuk. Kerupuk ini sudah menjadi panganan wajib masyarakat tanah air baik sebagai pelengkap menu utama, camilan bahkan sampai menjadi menu utama itu sendiri. Sebaran kerupuk di tanah air cukup beragam, tiap daerah memiliki ciri khas panganan kerupuk masing masing dengan bentuk, rasa, dan bahan baku nya yang khas. Ada kerupuk udang terbuat dari udang, ada kerupuk kulit/rambak terbuat dari kulit sapi, ada kerupuk kemplang biasanya oleh-oleh dari Palembang terbuat dari ikan, kerupuk miskin/melarat yang digoreng tanpa minyak tersebar di tatar pantura, kerupuk jengkol, kerupuk rempeyek, kerupuk mie, renginang, kerupuk gendar, kerupuk tahu, emping, kerupuk dorokdok, kerupuk asoy, sampai kerupuk blek yang ada di warung yang bentuknya putih bulat khas.

Dahulu masyarakat kita menciptakan kerupuk dalam rangka menghemat bahan makanan agar tidak cepat habis, cepat basi, bisa bertahan periode waktu tertentu, dan bisa dikonsumsi dikala masa paceklik tiba.

Selain memiliki keaneka ragaman bentuk, rasa dan bahan bakunya, kerupuk memiliki bunyi yang khas jika menyentuh gigi ketika hendak dimakan, seperti apa bunyinya??? “kriukk” nah bunyi ini lah yang sesungguhnya mengandung makna mendalam. Filosopis harga diri kepala keluarga dalam bidang ketahanan pangan ada pada bunyi kriuk nya kerupuk.

Masyarakat Indonesia masa lampau biasanya banyak anak, ketersediaan panganan yang terbatas, hidup serba sulit, kondisi ini menuntut sang nahkoda kepala keluarga harus memutar otak memenuhi kebutuhan paling utama yaitu pangan yang pasti harus tiap hari ada.

Pride, harga diri, budaya rasa malu, terutama malu pada saudara, tetangga dekat, sudah sangat tertanam pada masa itu, apalagi jika sebagai kepala keluarga tidak mampu mencukupi pangan keluarga adalah aib yang tidak boleh tampak dan terjadi. Kerupuk menjadi symbol, perlawananan kerawanan pangan pada masa itu, tercipta dan teracik alami hasil kristalisasi pemikiran himpitan perjuangan.

Bagaimana mendeteksi apakah sudah makan atau tidak tetangga kita? cukup dengan menempelkan telinga kita ke dinding sebelah rumah tetanga, jika berbunyi “kriuk”” itu tandanya pangan cukup, cukup dengan mendengar bunyi “kriuk”sudah menjadi pertanda tidak ada kelaparan, walaupun belum tentu punya beras barang segelas. Demi harga diri keluarga, demi ingin di nilai tidak kelaparan masyarakat mencari solusi mandiri walau menyiksa diri, karena kondisi saat itu yang harus serba tau diri.

Sialnya, diamnya masyarakat, tentramnya masyarakat, aman dan damainya masyarakat kala itu menjadikan penguasa senang, difikirnya sudah berhasil memimpin negeri, tidak ada kelaparan, tidak ada busung lapar, tidak ada anak kecil yang menangis ingin asupan camilan. difikirnya kemakmuran dimana mana, difikirnya surplus pangan, difikirnya gemah ripah loh jinawi toto tentram kerto raharjo. Nyatanya dibiarkannya masyarakat terus berbunyi “kriuk”.
____


Mas, mbak sudah makan belum? sini makan loh, temenin si mbah “kriuk”

loh, si mbah sendiri ndak sarapan? masuk angin loh nanti?? seloroh pemuda tanggung.

si mbah sedang sarapan krupuk nduk, sini lihat, pinara, gurih lezat kenyang. "kriuk".

cu, nduk besok makannya makan yang enak ya, si mbah punya kerupuk lezat buat kalian.
“kriuk”

si mbah hebat, tidak pernah mengutuk dan bergumam, si mbah ikhlas. si mbah lahir di jaman kekeringan air mata dimana mana.


cimahpar



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pakai kerudung katanya

khansa dan hasna mencoba memakai kerudung sendiri ini hasilnya, seperti biasa kaka selalu menjelek-jelekan wajahnya kalau di foto, sedangkan hasna selalu menonjolkan giginya yang banyak hehe..

Beginilah hobi hasna dan kesehariannya

menulis / menggambar dengan penuh semangat sampai manyun, menunggang kuda sambil bawa tas, bersepeda pakai helm sambil manyun, he he menggemaskan..